Www.tras.id – Tumpeng atau nasi tumpeng adalah makanan masyarakat Jawa, namun seiring dengan waktu tumpeng menjadi kuliner nusantara. Tumpeng sendiri yang penyajian nasinya berbentuk kerucut dan ditata bersama dengan lauk-pauknya. Olahan nasi yang dipakai umumnya berupa nasi kuning, nasi putih biasa, atau nasi uduk. Cara penyajian nasi ini khas nusantara ini biasanya dibuat pada saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia sudah mengenal kegiatan ini secara umum.

Khusus di Bengkulu, selain tumpeng juga ada makanan khas hampir mirip yaitu nasi jambar
kunyit. Sebagai salah satu tradisi budaya warisan leluhur, Nasi Jambar Kunyit khas Bengkulu. Nasi jambar kunyit biasanya disajikan pada kegiatan, seperti pernikahan, syukuran, duka cita, perdamaian, dan masih banyak lagi. Nasi jambar kunyit memiliki banyak makna seperti multikulturalisme, kerendahan hati, penyerahan diri, ketulusan serta kebersihan hati.

Dalam konteks ini saya tidak mengurai soal tumpeng sebagai kuliner, tapi membahas soal isu yang lagi hangat saat ini terkait “gagalnya” rencana pemberian tumpeng “simpati” yang dilakukan oleh Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Bengkulu, bertepatan dengan momentum HUT RI ke-76, Rabu, 17 Agustus 2021 kemaren.

Sebelumnya, Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah, sukses memberikan tumpeng dengan Walikota Bengkulu, Helmi Hasan, sebagai bentuk dukungan dan apresiasi Walikota beserta jajarannya atas kerja keras dan komitmen yang tinggi dalam penanganan pandemi covid 19 di Kota Bengkulu. Dimana berhasil menurunkan angka penularan dan keterisian tempat tidur rumah sakit.

Sebenarnya, hal yang sama juga akan dilakukan Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Bengkulu kepada Gubernur Bengkulu atas kerja keras jajarannya dalam penanggulangan pandemi covid 19. Sehingga provinsi Bengkulu, mampu turun dari level 4 menjadi level 3. Selain itu, kemampuan Pemda Provinsi membangun kemitraan dalam penyediaan oksigen untuk rumah sakit di Provinsi Bengkulu.

Insiden “gagalnya” pemberian tumpeng apresiasi dan simpati yang dilakukan Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah kepada gubernur, harus dilihat dari konteks yang obyektif dan tempatkan dalam prasangka yang positif atau dalam istilah agama disebut husnudzon. Yakni, sikap mental dan cara pandang yang menyebabkan seseorang melihat sesuatu dari sisi yang positif. Dalam Islam, husnudzon adalah berbaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah yang diberikan kepada manusia.

Saya yakin “gagalnya” pemberian tumpeng itu, semata-mata karena diskomunikasi saja, dan bukan karena ada muatan lain. Oleh sebab itu, kepada teman-teman pemuda muhammadiyah, bisa menganggap kejadian ini secara arif dan bijaksana tanpa harus memberikan reaksi berlebihan apalagi kontraproduktif.

Kita menaruh simpati kepada Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah, yang memiliki komitmen tinggi dalam membantu pemerintah daerah dalam penanganan pandemi covid 19 melalui kerja-kerja nyata. Mulai dari kegiatan memberikan literasi dan edukasi kepada masyarakat tentang kepatuhan protokol kesehatan, pemberian bantuan sembako bagi masyarakat terdampak, pembagian masker gratis, dan berbagai kegiatan lain yang positif dan konstruktif.

Kepada pemerintah daerah kita berharap, terus membangun sinergitas kepada seluruh komponen masyarakat dalam penanganan pandemi covid 19. Kerja berat ini tidak akan pernah berhasil tanpa adanya dukungan masyarakat. Ambillah peran sekecil apapun, semoga badai cepat berlalu, seiring doa dan kepasrahan diri kepada Allah SWT amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here