Reporter: Dedi HP
Foto: Dok tras.id
www.tras.id – Pemerhati Hubungan Internasional (HI), Teguh Santosa menyebut saat ini Indonesia tengah menghadapi perang asimetris, dimana salah satu senjata yang digunakan pihak lawan adalah narkoba. Hal ini terbukti dari maraknya penyelundupan narkoba dari luar negeri ke Indonesia. Bahkan dalam tiga bulan terakhir Polri berhasil mengagalkan setidaknya 5 ton narkoba.
“Pada esensinya apa yang sedang kita hadapi ini adalah perang asimetris yang dilancarkan pihak lawan, entah siapapun mereka, untuk menghabisi generasi muda kita yang berarti mengikis masa depan Indonesia. Ini seperti opium war yang dilancarkan pihak Eropa untuk menaklukkan China di masa lalu. Sekarang kita yang mengalaminya. Ini adalah perang. Begitulan seharusnya kita melihat persoalan ini, pihak lawan gunakan narkoba menyerang Indonesia,” ungkap Teguh Santosa pada Selasa (15/06/2021).
Dia juga menyampaikan sepatutnya publik mengapresiasi Polri dan Badan Nasional Narkotika (BNN) dalam memerangi peredaran narkoba di tanah air. Namun demikian, informasi yang disampaikan Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengenai besaran kasus narkoba yang berhasil digagalkan dalam tiga bulan terakhir sesungguhnya adalah sebagai sinyal ketidakmampuan negara menghadapi peperangan asimetris ini.
“Yang lima ton dalam tiga bulan itu kan yang berhasil digagalkan. Coba bayangkan, berapa yang tidak berhasil kita gagalkan?” ujar mantan Ketua Bidang Luar Negeri Pemuda Muhammadiyah ini.
Untuk itu, dijelaskan Teguh sudah sepatutnya pemerintah Indonesia membangun rantai komando yang lebih solid dan terukur dalam peperangan asimetris ini. Pemerintah harus memberikan ruang yang signifikan bagi BIN, BNPT, Bakamla, TNI dan BAIS dalam memerangi peredaran narkoba di bumi pertiwi ini dengan menyisihkan ego sektoral masing-masing lembaga. Banyak model yang dilakukan berbagai negara dalam membangun rantai komando khusus dalam memerangi narkoba, dan Indonesia bisa belajar dari negara lain.
“BNN dan Polri menangani persoalan narkoba setelah memasuki wilayah hukum Indonesia. Sementara fungsi intelijen yang bekerja untuk mencegah tsunami narkoba menghantam negara kita masih kurang terdengar. Organ strategis negara lainnya harus dilibatkan dalam peperangan ini, misalnya Bakamla harus diberi porsi lebih besar sebab serangan narkoba banyak melalui laut. Tidak bisa tidak, Bakamla harus memiliki kapasitas yang memadai untuk memukul mereka sebelum menyentuh daratan kita,” demikian Teguh Santosa.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here