Advertisment Image

Bengkulu Kota 302 Tahun Dalam Kenangan

Www.tras.id – Usia Kota Bengkulu tanggal 17 Maret 2021 lalu, sudah 302 tahun. Umur tua meskipun semangatnya tetap muda. Hanya tampang yang menua, untuk tegak, semangat tetap power muda.

Teringat Bengkulu Kota maka teringat Kota Singapura. Negeri tukar guling antara koloni Belanda dan koloni Inggris. Kala itu Kota Singapura dalam kekuasaan Belanda masih banyak hutan belantara. Sementara Kota Bengkulu kala itu sudah punya balai kesehatan (Rumah sakit), hotel, bank, dan bangunan megah berdinding batu.

Tapi itu hanya cerita dahulu kala. Jangan ada pertanyaan, kenapa kini Kota Singapura lebih maju dari Kota Bengkulu? Kemajuan di Kota Singapura kini meninggalkan tonggak atau situs sejarah masa lampau. Menarik untuk menjadi kunjungan wisata sejarah. Ini sama dengan Kota Bengkulu, meskipun beberapa situs yang ada sudah luluh lantak, dihancurkan. Sekali lagi jangan tanyakan, siapa pelaku penghancuran kala itu?

Balai kesehatan itu kini dijadikan Masjid At Taqwa. Gedung bola (Eks markas CPM) kini menjadi taman yang tak terawat. Beberapa rumah pejabat Inggris kini dialihkan jadi perkantoran dan beberapa situs bersejarah peninggalan masa lalu kini terabaikan. Tidak diurus sebagaimana mestinya. Mungkin itu hal wajar. Tidak semua orang suka, senang dengan history masa lalu. Walaupun masa lalu itu punya nilai sejarah dan tonggak pembangunan masa akan datang.

Penulis hanya mengingatkan, Bengkulu yang saat koloni Inggris masuk namanya diubah menjadi Bencoolen, diklaim milik British East India Company (EIC). Membentang sekitar 300 mil di sepanjang pantai barat daya Sumatera.

EIC hadir tahun 1685 dan sempat membangun Benteng York. Di Tahun 1714, EIC kembali membangun Benteng Marlborough yang kini masih ada tegak berdiri dengan keretakan yang mungkin tidak begitu prinsip.

Bengkulu merupakan negeri yang pernah disinggahi Belanda, Inggris, dan Perancis sebelum kemerdekaan Indonesia, bahkan Portugis sempat melongok negeri ini meskipun tak sempat bercokol.

Inggris menyerahkan Bengkulu ke Belanda dalam perjanjian Inggris-Belanda tahun 1824. Perjanjian yang dikenal dengan Traktat London. Kenapa dilepaskan Inggris? Dalam beberapa catatan terungkap, selain masalah ekonomi, politik, ternyata negeri Bengkulu kala itu merupakan negeri yang tidak sehat akibat berbagai penyakit yang melanda, meskipun hasil buminya seperti lada kala itu masih menjanjikan sebagai komoditi.

Mengingat kembali

Koloni Inggris pertama kali datang di Negeri Bengkulu (Bencoolen) usai ekspedisi dari Madras yang dipimpin oleh Ralph Ord dan Benjamin Bloome. Ada dua kompi kala itu ikut mendarat. Ada 100 tentara yang tiba pada bulan Juni 1685.

Koloni Inggris sempat membangun Benteng York (Fort York) di dekat muara sungai Bencoolen, yang kini posisinya diatas Bukit Pasar Bengkulu. Pasar (Marga) Bengkulu yang saat itu disebut Desa Melayu. Setidaknya ada tujuh atau delapan ratus rumah yang ada dekat Fort York.

Usai kematian gubernur pertama Fort York, Ord, Benjamin Bloome, Fort York di bawah kewenangan Gubernur Madras (Sebelum Benteng Anna di Manduto dan Benteng Marlborough dibangun). Itulah awal kejayaan Negeri Bengkulu sebagai pusat perdagangan yang kaya lada.

Dalam beberapa catatan disebutkan, perjuangan koloni Inggris kala itu sangat berat tatkala berada di negeri Bengkulu. Negeri kaya akan lada dan merupakan negeri fasal Banten, sekaligus tempat kuburan bagi mereka, meskipun pemakaman itu kini arealnya tinggal separuh. Pemakaman yang banyak cerita yang oleh anak negeri disebut kuburan Belanda (Kini pemakaman Inggris), di mana orang Portugis, Belanda, Inggris, dan Perancis dimakamkan di Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu itu.

Semua itu berawal bulan Oktober 1685. Pasukan koloni Inggris banyak yang sekarat karena demam dan fluks. Karena banyaknya pasukan yang sakit dan mengalami kematian, izinpun akhirnya harus diberikan untuk merekrut tentara non-Eropa. Ini untuk melengkapi pendirian militer Fort York yang dibangun dengan batu bata berproporsi sederhana.

Ada yang ironis soal situs Fort York, di mana pada lokasinya ada bangunan kantor. Berbagai tumbuhan liar dan besar dibiarkan tumbuh. Termasuk ada bekas bangunan yang menumpang di atas situs Fort York.

Baru pada 1714 Fort York digantikan oleh Fort Marlborough, sebuah benteng batu yang lebih besar dibangun yang hingga kini masih tegak berdiri. Ada beberapa sudut bagian benteng yang retak dan batanya terlepas. (dari berbagai sumber)

*Penulis adalah Dewan Pakar JMSI Provinsi Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *