Ibu Eti mulai produksi masker kain yang diorder untuk bakti sosial salah satu Ormas di Kota Bengkulu.

Emak-emak adalah pihak yang paling terdampak efek Pandemi Covid-19, perubahan tatanan kehidupan secara ekstrim menjadi tantangan tersendiri agar anggota keluarganya tetap mampu bertahan hidup (Survive) di tengah ketidakpastian. Bagaimana tidak, mereka harus mengencangkan ikat pinggang dan  cermat mengatur keuangan keluarga di saat pendapatan keluarga semakin menurun karena melemahnya daya beli dan kelesuan ekonomi global akibat Pandemi. Tak jarang juga, emak-emak ikut turun tangan mencari sumber pendapatan membantu sang suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Berikut cerita emak-emak di Jl Muhajirin 4A RT 03 Timur Indah, Kota Bengkulu tetap survive di masa Pandemi.

Dedi Hardiansyah Putra – Kota Bengkulu

Panas terik matahari pukul 12.45 WIB pada Jum’at (23/07/2021) selepas sholat Jum’at terasa menembus kemeja dan membakar kulit, rasa dahaga tak tertahankan memaksa saya melangkah lebih cepat mendatangi penjual es kelapa muda untuk segera membasahi kerongkongan yang sudah sangat kering. Tepat di seberang jalan dari tempat saya menikmati es kelapa muda, tampak seorang emak di teras rumah yang tak terlalu besar namun rindang, ia tengah sibuk mengukur kain, menjahit, melipat dan dibantu rekannya menyusun kain yang sudah dipotong dan dijahit  itu ke dalam kardus mie instan sambil berbincang dan sesekali terdengar gelak tawa hingga terdengar dari tempat saya duduk.
Saya yang penasaran dengan aktivitas mereka memberanikan diri berbincang dan melihat aktivitas mereka lebih dekat. Ternyata para emak tersebut tengah membuat masker kain bercorak batik dalam jumlah cukup banyak.
“Alhamdulillah kelompok UMKM Sumber Rezeki  dapat order membuat masker, kami bisa menambah penghasilan keluarga. Maklum saja masa Pandemi Covid ini semua jadi sulit dan biaya hidup jadi mahal,” kata emak yang memiliki nama Eti Rejod.
Ia menambahkan awalnya dirinya bingung harus berbuat apa sejak pemerintah menetapkan Covid-19  sebagai Pandemi di Indonesia dan adanya pemberlakuan PPKM, terlebih usaha sang suami mulai sepi karena aktivitas masyarakat di luar rumah dibatasi pemerintah. Sampai akhirnya ia mengajak ibu-ibu lainnya yang senasib memikirkan jalan keluar atas krisis yang mereka hadapi. Dari diskusi muncul beberapa ide usaha, seperti menjual makanan secara online hingga membuat masker, namun usaha itu tidak membuahkan hasil yang memuaskan karena keterbatasan modal usaha dan penjualan yang tidak mencapai target.
“Kelompok kami awalnya ada yang membuat makanan dan masker kemudian dijual online, karena keterbatasan semua hal maka banyak yang tidak laku. Kondisi ini banyak yang memilih mundur dan mencoba peruntungan menjadi ART dan ojek online,” kata Eti.
Namun ia bersama empat rekannya yang lain tetap optimis bisa melalui badai Pandemi Covid-19 dengan usaha yang mereka tekuni membuat masker. Ia yang beberapa kali diundang menjadi narasumber dalam pelatihan kerajinan tangan memanfaatkan jaringannya untuk menawarkan kerjasama membuat masker.  Tak berhenti di situ, ia juga berkirim surat pada anggota DPRD agar memfasilitasi mereka mendapatkan akses untuk menjual masker yang mereka produksi. Hingga akhirnya kelompok itu mendapatkan order pertamanya membuat lima ribu masker dari salah satu Ormas untuk bakti sosial.
“Alhamdulillah, kawan-kawan mulai kembali semangat saat kami diberi kepercayaan membuat lima ribu masker kain untuk bakti sosial. Penghasilan dari order masker itu cukup untuk menutup kebutuhan keluarga dan membayar uang sekolah anak-anak,” ujarnya.

Ibu Eti Rejod saat bersiap membuat masker kain batik

Konsumen yang puas dengan hasil keterampilan kelompok emak-emak itu, dan dari cerita mulut ke mulut membuat kelompok emak-emak tersebut kembali ketiban durian runtuh. Kali ini tidak hanya order datang dari Ormas, namun juga dari partai politik, organisasi perempuan, kelompok pengajian, instansi pemerintah dan sekolah.
“Kami terkejut order datang banyak sekali, ada yang order untuk bakti sosial, ada juga untuk dibagikan lagi sebagai aksesoris atau cedera mata pernikahan, dan saat ini yang kami kerjakan adalah masker untuk peringatan hari kemerdekaan,” cerita Eti.
Emak-emak lainnya yang tergabung dalam kelompok itu, Kusmirawati (35) menuturkan hingga saat ini order pembuatan masker yang masuk sudah mencapai dua puluh ribu lembar, dengan rata-rata omset mereka sebesar Rp 15.000.000 per bulan. Ia juga menjelaskan beberapa order juga terpaksa mereka berikan pada penjahit di Pasar Panorama karena banyaknya order dan terbatasnya mesin produksi. Saat ini usaha mereka mulai berkembang pada jasa pembuatan baju seragam sekolah, ia juga sangat bersyukur usaha kelompok itu bisa berkembang dan dapat membantu suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa Pandemi.
“Kami sangat bersyukur, dimulai dari usaha kecil-kecilan sampai bisa menutupi kebutuhan bulanan keluarga. Saat ini usaha kami mulai berkembang, kami berharap mendapatkan bantuan modal untuk pengembangan usaha lebih besar lagi, sehingga lebih banyak lagi emak-emak yang terbantu,” ujarnya.
Ia bersama emak-emak lainnya juga membuka diri bagi kaum emak yang ingin belajar menjahit, membuat kerajinan tangan dan berwirausaha. Menurutnya cerita keberhasilan ini harus disebar luaskan untuk motivasi emak-emak lainnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here