Komunitas S3 berbagi paket beras dari gerakan sedekah seribu sehari pada para pemulung di TPA Air Sebakul

“Berbuat baik janganlah ditunda-tunda” itulah sepenggal lagu yang dipopulerkan grop musik qasidah Bimbo sekitar tahun 2016 yang menjadi kalimat sakti mengilhami komunitas Sedekah Seribu Sehari (S3) melakukan gerakan-gerakan kebaikan. Dengan konsisten berderma Rp 1.000 per hari komunitas ini telah membantu banyak warga yang membutuhkan, seperti pada Senin (25/10/2021) komunitas S3 menyalurkan 0,6 ton beras pada kaum dhuafa dan pemulung yang ada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Sebakul. Bagaimana ceritanya? Berikut laporannya.

Dedi Hardiansyah Putra – Kota Bengkulu

Bau menyengat tak nyaman di hidung yang berasal dari gunung sampah dan serbuan ratusan ribu bahkan jutaan lalat menyambut kedatangan kami di TPA Air Sebakul, RT 24 Kelurahan Sukarami, Selebar, Kota Bengkulu. Tumpukan karung ukuran besar berisi plastik bekas air minum kemasan gelas dan botol plastik bekas juga berserakan di lahan sempit yang ditumbuhi ilalang. Dari kejauhan tampak para pemulung yang dominan kaum ibu-ibu itu bersemangat mengais dan membongkar tumpukan sampah yang baru saja diturunkan dari truk kuning milik Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bengkulu. Beberapa anak usia sekolah dasar juga tampak sibuk menyusun botol plastik bekas ke dalam karung di samping tenda-tenda tempat  para pemulung beristirahat.
Tak berapa lama kedatangan kami di lokasi yang dipenuhi sampah dan lumpur itu, seseorang menghampiri kami dan meminta kami menunggu sejenak sembari ia memanggil para pemulung lainnya yang tengah bekerja di bawah terik matahari sambil mencari plastik bekas, kertas kardus, botol kaca dan kaleng yang dapat dijadikan rupiah kembali di tengah gunung sampah. Tak lama kami menurunkan paket beras dari mobil, para pemulung hadir menyambangi kami dan membantu menurunkan beras yang telah dikemas kedalam 120 karung. Suasana haru dan tetesan air mata mewarnai pembagian paket beras tersebut, tak sedikit anggota komunitas S3 dan para pemulung menyeka tetes air yang keluar dari ujung mata, bahkan mata Wakil Walikota Bengkulu, Dedy Wahyudi yang ikut membersamai komunitas S3 itu tampak berkaca-kaca saat memberikan paket bantuan pada seorang ibu pemulung yang menggendong bayinya saat bekerja mengais rezeki dari tumpukan sampah.
Koordinator Wilayah (Korwil) Komunitas S3 Bengkulu, Meri Diane Fransiska menjelaskan komunitas ini dibentuk atas kesadaran masing-masing untuk membantu sesama dengan bersedekah Rp 1.000 setiap harinya. Uang yang terkumpul dari anggota komunitas, kemudian disalurkan pada kaum duafa dalam berbagai bentuk hasil kesepakatan bersama, seperti dalam bentuk paket sembako, paket belajar dan bantuan modal usaha.
“Al Quran surat Al Baqoroh 148 menuntun kita melakukan kebaikan, begitu juga dengan hadis nabi yang diriwayatkan Abu Dawud, Baihaqi  dan Hakim bahwa kita dianjurkan berbuat baik untuk akhirat, dan paling gampang diingat adalah lirik lagu dari Bimbo bahwa berbuat baik jangan ditunda-tunda . Nah kami berfikir kebaikan-kebaikan individu ini akan berasa nilai manfaatnya bagi masyarakat luas bila dikoordinir dan dilakukan secara terus-menerus, dan hari ini dari gerakan seribu rupiah, kami menyalurkan paket beras sebanyak 120 karung kemasan 5 Kg,” ungkap Meri.

Komunitas S3 berbagi paket beras yang diharapkan dapat meringankan beban para duafa dan pemulung di TPA Air Sebakul

Ia berharap paket bantuan tersebut dapat meringankan sedikit beban para pemulung untuk kebutuhan dapur mereka setidaknya hingga sepekan. Ia juga mengajak masyarakat yang memiliki rezeki lebih menyisihkan sedikit rezekinya untuk membantu sesama melalui komunitas-komunitas yang ada. Menurutnya gerakan kecil ini bila dilakukan banyak elemen masyarakat maka akan menjadi gerakan moral yang dapat menjadi daya ungkit menuju kesejahteraan bersama. “Kami mengajak masyarakat lainnya bergabung dalam gerakan kebaikan ini,” ungkapnya.
Salah satu penerima paket bantuan itu, Sulastri mengungkapkan rasa gembiranya atas bantuan itu. Setidaknya untuk sepekan ke depan, ia tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli beras dan dapat dialihkan kegunaannya untuk kebutuhan penting lainnya. Menurutnya untuk mendapatkan 5 Kg beras setidaknya ia harus bekerja mencari sampah plastik dan rongsokan hingga 2 pekan. “Saya mengucapkan terima kasih atas bantuannya, saya tak perlu lagi beli beras. Ini sangat berharga bagi kami,” ungkap ibu empat orang anak ini sambil menyeka air matanya.
Sementara itu, Dedy Wahyudi mengungkapkan gerakan kebaikan yang digagas komunitas S3 harus didukung semua pihak, terlebih gerakan tersebut merupakan gerakan kemanusiaan yang sangat membantu pemerintah. Ia juga menyampaikan kekagumannya apda komunitas yang didominasi kaum ibu-ibu itu. Ia berharap gerakan itu konsisten sehingga dapat membantu lebih banyak orang.
“Saya salut dengan ibu-ibu yang tergabung di S3. Mereka membuktikan, dengan Rp 1.000 per hari jika konsisten bersedekah setiap hari, bisa membantu banyak orang,” ujarnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here