Advertisment Image

Menjaga Hulu, Mengalirkan Energi : Upaya Konservasi di PLTA Musi Bengkulu

PLTA Musi dengan kapasitas 210 Megawatt (MW) berdiri menjadi salah satu penopang utama energi terbarukan yang andal di bagian selatan Sumatera

Editor: Herwan Saleh

BENGKULU,- Dibalik Keindahan Sungai Musi ada energi. yang menghidupi rumah, usaha, dan masa depan Bengkulu. Di hulu Provinsi Bengkulu, aliran Sungai Musi tidak hanya menjadi bentang alam yang indah. Di sana, PLTA Musi dengan kapasitas 210 Megawatt (MW) berdiri menjadi salah satu penopang utama energi terbarukan yang andal di bagian selatan Sumatera.

Kontribusinya mencapai sekitar 294 dari total Energi Baru Terbarukan (EBT) di sistem Sumatera bagian selatan. Mencakup Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, dan Sumatera Barat. Total daya terpasang EBT di wilayah ini sekitar 718 MW, dan PLTA Musi menjadi salah satu tulang punggungnya.

PLTA Musi bukan hanya penting bagi Bengkulu. Ia juga menjadi salah satu unit pertama yang dapat menyuplai listrik kembali ke sistem Grid 150 kV Sumatera saat terjadi gangguan besar atau blackout.

PLTA Musi tercatat menurunkan emisi hingga 724 juta ton CO² ekuivalen melalui skema perdagangan karbon internasional

Menariknya, daya maksimalnya bahkan mampu mencukupi seluruh kebutuhan listrik Provinsi Bengkulu yang beban puncaknya sekitar 140 MW. Karena menggunakan tenaga air, PLTA Musi tidak menghasilkan polusi udara. Tidak menghasilkan limbah cair atau limbah padat, membantu menekan penggunaan pembangkit berbahan bakar fosil. Sejak 2009-2017, pembangkit ini tercatat menurunkan emisi hingga 724 juta ton CO² ekuivalen melalui skema perdagangan karbon internasional.

Meski ramah lingkungan, keberlanjutannya sangat bergantung pada kondisi hulu sungai. Ancaman yang kini muncul mulai dari sampah domestik, pertumbuhan eceng gondok, hingga sedimentasi akibat alih fungsi lahan.

Sampah yang menumpuk bahkan pernah membuat unit pembangkit berhenti beroperasi selama 4-5 hari. Karena itu, inisiatif masyarakat seperti bank sampah di kawasan hulu menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan energi ini, agar aliran sungai tetap bersih, turbin dapat beroperasi optimal, dan pasokan listrik untuk Bengkulu serta Sumatera bagian selatan tetap andal tanpa gangguan.

Konservasi di PLTA Musi, Bengkulu (3×70 MW), berfokus pada pelestarian daerah tangkapan air seluas 58.000 hektar. Berlanjut pada pengelolaan sampah plastik di bendungan melalui bank sampah. Serta pemberdayaan masyarakat sekitar melalui pola hutan kemasyarakatan. Guna menekan perambahan hutan, seperti menanam tanaman produktif di kawasan hulu.

Upaya Utama Konservasi PLTA Musi juga mengutamakan pengelolaan daerah tangkapan air (Catchment Area). Mulai dari melindungi kawasan hutan di hulu Sungai Musi, di mana 60 persen merupakan hutan lindung dan 40 persen hutan produktif, melalui kemitraan dengan masyarakat.

Hutan kemasyarakatan melibatkan petani di desa air hitam dan desa Tanjung Alam untuk menanam komoditas. Seperti kopi, pala, dan durian guna menjaga kelestarian hutan sekaligus meningkatkan ekonomi warga.

Selain itu, manajemen sampah kerjasama dengan bank sampah Berkah untuk daur ulang sampah plastik yang masuk ke area bendungan menjadi produk bernilai. Salah satunya dalam pengolahan eceng gondok. Menjadi pemberdayaan masyarakat untuk mengolah eceng gondok di area waduk menjadi kompos. Serta menjadi potensi energi terbarukan pemanfaatan atap gedung (rooftop) untuk pemasangan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) on-grid sebagai bagian dari strategi konservasi energi.

Langkah-langkah ini bertujuan memastikan kelestarian hulu sungai demi menjaga pasokan air yang konsisten untuk produksi energi listrik ramah lingkungan dari PLTA Musi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *