Mengenal Filsafat Dakwah Muhammadiyah

Editor: Herwan Saleh

BENGKULU, tras.id – Pada dekade 1980-an, melalui ceramah-ceramah KH. AR Fachruddin, masyarakat mengenal bahwa tujuan dakwah Muhammadiyah adalah pengajaran Islam yang murni tanpa bercampur dengan bid’ah, tahayul, dan khurafat. Maka, Muhammadiyah kemudian dikenal semakin luas sebagai gerakan dakwah yang mengajak masyarakat untuk kembali ke ajaran inti Islam dan menjaga kemurnian agama Islam.

Apa yang dapat mencemari Islam?  mengutip dari laman muhammadiyah.or.id disebutkan beberapa yang dapat merusak Islam yakni penghayatan ritual dan spiritual yang bercampur dengan penalaran yang disandarkan pada kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, atau sekadar mengikuti adat-kebiasaan tanpa mempertimbangkan relevansinya untuk kehidupan kemasyarakatan yang lebih maju.

Dengan demikian jelas bahwa Muhammadiyah tidak menentang kearifan atau budaya lokal. KH. AR. Fakhruddin sendiri merupakan pimpinan Muhammadiyah yang sangat lekat dengan praktik kebudayaan. KH. AR Fakhruddin misalnya mengelola majelis pengajian yang diajarkan menggunakan bahasa Jawa. Juga, menulis buku keislaman dalam bahasa Jawa dan huruf Jawa. Sejauh elemen atau entitas budaya menjadi sarana komunikasi atau menjadi bagian penting dalam memajukan masyarakat, maka Muhammadiyah tidak mungkin menegasikan arti pentingnya.

Oleh karena itu, jika ada kesan Muhammadiyah bersikap menolak budaya lokal, tentu ada konteks dan penjelasan lebih lanjut. Dalam praktiknya, budaya lokal seringkali diadaptasi dan direvitalisasi oleh aktivis Muhammadiyah untuk tujuan yang sangat substantif. Contoh lain budaya lokal yang direvitalisasi adalah praktik penghormatan terhadap alam melalui sesajian atau kepercayaan mistik yang diubah oleh Muhammadiyah menjadi konservasi ekologi, melalui kampanye deforestasi, pemberdayaan masyarakat nelayan, dan lain sebagainya.

lanjut hal…2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *