Advertisment Image

Harmoni di Jantung Kota: Menyibak Filosofi Sedekah Pisang di Royal Baroe

Oleh: Dedi HP

SERANG,- Di bawah terik matahari Kota Serang yang menyengat, pemandangan kontras tersaji di sepanjang Jalan Sultan Agung Tirtayasa. Di antara hiruk-pikuk pusat ekonomi dan deretan toko modern kawasan “Royal Baroe”, terselip sebuah pemandangan yang meneduhkan: tandan-tandan pisang matang yang bergelantungan di atas batang sintetis, berdiri anggun di depan pintu toko.

​Bukan untuk dijual, apalagi sekadar hiasan. Pisang-pisang itu adalah undangan terbuka bagi siapa saja yang melintas untuk berhenti sejenak, memetik, dan menikmatinya secara cuma-cuma.

​Jejak Syukur dari Era Kesultanan

​Kawasan Royal Baroe kini memang bersolek. Dengan trotoar luas dan lampu-lampu ikonik yang mengingatkan orang pada suasana Malioboro di Yogyakarta, tempat ini menjadi magnet baru bagi warga lokal maupun pelancong. Namun, di balik kemasan modern tersebut, “Sedekah Pisang” menjadi jangkar yang mengikat warga Serang pada akar budayanya.

​Feby Arma, seorang akademisi dari Universitas Pamulang sekaligus warga setempat, mengungkapkan bahwa tradisi ini bukanlah fenomena baru. Akar sejarahnya menghujam jauh hingga masa kepemimpinan Sultan Maulana Hasanuddin (1552).

​”Dulu, warga sering menggantung pisang matang di depan rumah sebagai wujud syukur atas rezeki dari Tuhan. Ini adalah cara masyarakat Serang memuliakan pejalan kaki; menyediakan penawar lapar dan lelah bagi mereka yang sedang dalam perjalanan,” ujar Feby.

​Ruang Uji Kepercayaan Sosial

​Menariknya, meski diletakkan tanpa penjagaan di ruang publik, tak ada aksi borong atau penjarahan. Para pengemudi ojek online, sopir angkutan umum, hingga pejalan kaki yang singgah di bangku-bangku trotoar hanya mengambil satu atau dua buah, sekadar cukup untuk mengganjal perut.

​Fenomena ini, menurut Feby, adalah bukti nyata adanya social trust atau kepercayaan sosial yang masih terjaga di tengah kepungan modernisasi.

​”Orang mengambil secukupnya. Tidak ada yang memboyong semuanya. Ini mencerminkan harmoni dan etika masyarakat yang saling menghargai,” tambahnya.

​Mengapa Harus Pisang?

​Pilihan jatuh pada pisang bukan tanpa alasan. Secara praktis, buah ini adalah sumber energi instan yang higienis; tak perlu wadah, sendok, apalagi pisau untuk menikmatinya. Cukup dikupas, lalu dimakan. Berbagai jenis pisang, mulai dari Pisang Raja, Ambon, hingga Pisang Jantan, tersedia bergantian sesuai ketersediaan pemilik toko.

​Namun secara filosofis, keberadaan sedekah ini di jantung kawasan bisnis memberikan pesan kuat: setajam apa pun persaingan ekonomi di Royal Baroe, nilai kemanusiaan dan keramahtamahan warga Serang tetap berada di atas segalanya.

​Di balik riuhnya transaksi perdagangan, sepotong pisang gratis itu seolah berbisik bahwa di jantung Banten, modernitas dan tradisi tak perlu saling meniadakan. Keduanya justru bisa duduk berdampingan, menawarkan manisnya berbagi di tengah kerasnya aspal kota. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *