Peserta halalbihalal Persatuan Batak Muslim Lampung berfoto bersama.
(foto: JMSI)
Editor: Dedi HP
tras.id,- Suasana hangat dan kental nuansa budaya mewarnai gelaran halalbihalal Persatuan Batak Muslim Satataring Lampung. Acara yang mempertemukan para perantau asal Sumatra Utara tersebut dilangsungkan di Taman Wisata Agro Jatimulyo, Lampung Selatan, Senin (6/4/2026).
Kemeriahan silaturahmi ini diawali dengan tradisi Manortor, yakni tarian khas suku Batak (Toba, Mandailing, dan Angkola). Diiringi ketukan musik gondang yang ritmis, para peserta yang terdiri dari unsur kahanggi, anak boru, dan mora tampak antusias mengikuti gerakan tari yang menjadi simbol persaudaraan tersebut.
Setelah prosesi budaya, acara dilanjutkan dengan agenda religi yang khidmat melalui pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustaz Hoiruddin Harahap.
Ketua Panitia, M. Yusuf Rambe, didampingi Humas Persatuan Ahmad Novriwan, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang hadir. Ia berharap kegiatan ini menjadi evaluasi untuk penyelenggaraan yang lebih baik di tahun-tahun mendatang.
Menjaga Solidaritas di Tanah Rantau
Ketua Persatuan Batak Muslim Satataring Lampung, Syahrul Rambe, mengaku terharu melihat kekompakan para anggotanya. Menurutnya, halalbihalal bukan sekadar seremoni rutin, melainkan jembatan pelepas rindu bagi warga perantauan.
”Melalui kegiatan ini, kita bisa kembali bertemu sanak saudara. Ini menjadi momentum kebahagiaan tersendiri bagi kita semua yang jauh dari kampung halaman,” ujar Syahrul.
Pesan senada disampaikan oleh perwakilan marga, Sayur Matua Harahap, dan perwakilan kaum ibu, Kamisa Dalimunte. Mereka menekankan bahwa di tanah rantau, anggota persatuan adalah keluarga terdekat yang harus saling bahu-membahu dalam suka maupun duka.
Pesan Penasihat: Pegang Teguh Adat dan Kebersamaan
Ketua Penasehat, H. Ependi Rambe, mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai adat dalam berorganisasi. Ia menekankan peran strategis kahanggi, anak boru, dan mora sebagai fondasi kehidupan sosial warga Batak, baik dalam urusan adat, pesta, maupun saat tertimpa musibah.
”Kita harus saling peduli dan tolong-menolong. Tanpa kebersamaan, semangat persatuan tidak akan terjaga,” tegas Ependi.
Acara inti ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Khairil Anwar Pohan, S.Ag., M.Pd. Suasana mendadak syahdu saat doa dipanjatkan untuk orang tua yang telah tiada, menyentuh hati para peserta yang hadir.
Hiburan dan Tradisi Saweran
Menjelang akhir acara, suasana formal berubah menjadi cair dan penuh kegembiraan. Sesi hiburan diisi dengan penampilan menyanyi dari para anggota yang berbakat. Gelak tawa pecah saat tradisi saweran dimulai sebagai bentuk apresiasi bagi para pengisi acara.
Kegiatan halalbihalal ini berakhir dengan penuh sukacita, meninggalkan kesan mendalam bagi keluarga besar Persatuan Batak Muslim Satataring Lampung yang sukses mengobati rasa rindu pada kampung halaman di tanah Sumatra Utara.(*)
